“Allah akan menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya. (HR. Muslim)

Assalamaualaikum, Selamat Datang dan salam Ukhuwah Islamiyah

Photobucket

Setiap link download yang ada di web ini diberi kata sandi, silahkan masukan kata sandinya www.moslembrothers.com
Any download link on the web is given a password, please enter the password
www.moslembrothers.com
Oleh Aminah Mustari

"Awalnya, aku merasa gerah dan tidak cantik jika memakai kerudung. Itulah mengapa aku berkerudung hanya ke kampus."
(Dewi Rifqina)

"'Mengapa Bunda pakai jilbab kalau nganter Keisya? Mengapa kalau pergi ke tempat lain enggak pakai jilbab?' begitu tanya putri sulung saya saat usianya tiga tahun."
(Fita Chakra)

"Nanti kalau jodohnya jauh, bagaimana? Kalau enggak laku, bagaimana?" orangtua istriku bertanya khawatir ketika ia dulu memutuskan memakai hijab.
(Niko Arwenda)

***

Begitulah sebagian tutur jujur para pemakai hijab dan orang di sekelilingnya tentang hijab. Pada mulanya, seribu satu alasan mereka berhijab. Beribu kekhawatiran pernah menyapa. Pada akhirnya, semua alasan bermuara hanya untuk Allah semata. Dan, kekhawatiran pun terhapus karena Allah senantiasa memberirahmat-Nya.

Buku ini berisi kisah nyata para pejuang hijab. Para muslimah yang benar-benar merdeka dari keterjajahan stigma negatif tentang hijab. Perempuan-perempuan pencinta Tuhan ini adalah para pemenang. Ya, pemenang dari pertarungan melawankeegoisan diri untuk benar-benar menaati perintah-Nya, Sang Mahakuasa.

Silahkan miliki buku ini KLIK DISINI

Sungguh, Hanya Karena Engkau Aku Berhijab

“Membaca buku “Menjadi Muslim Milyarder Modal Iman”, membuat siapa saja yang ingin mulai berbisnis akan merasa tertampar. Penulis memaparkan kesuksesan berbisnis tanpa rencana bisnis yang teoritis. Jadi, hanya dengan iman dan berani gagal, siapa pun bisa sukses berbisnis.”

- Ivan Dipa, Dosen, Konsultan Bisnis Online, Penulis Buku “Twitter is Money”.
Cara belajar yang EFEKTIF adalah dari mencoba dan melakukan kesalahan. Cara belajar yang LEBIH EFEKTIF adalah belajar dari pengalaman orang lain. Belajarlah dari orang yang pernah melakukan. Baca buku ini! Dapatkan pencerahan dan praktikkan!”

- Badroni Yuzirman, Pendiri Komunitas TDA, , @roniyuzirman.

“Sungguh, buku yang inspiratif. Jika kita ingin maju, jaya, sukses, dan dihormati, harus mau kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Tiga konsep kerja yang diketengahkan penulis dalam suksesnya menjadi pengusaha, dan kisah-kisah lain yang termuat di buku ini.

- Mahfan, S.Pd, MA. Ustadz, Penulis Buku Best Seller; Buku Pintar Shalat, Dahsyatnya Doa Anak Yatim, 

Berkah Shalat Dhuha.

“Buku ‘ajaib’ dan bukan teori. Benar-benar membakar motivasi untuk segera memulai bisnis. Siapa saja yang ingin menjadi milyarder dengan bermodalkan iman, bacalah buku ini, hayati dan action. Ingat, tidak ada yang tidak mungkin jika sudah kehendak-Nya.”

- Irfan (@Irf_Journey), Writer, Social Mediapreneur & Founder @TerimakasihIBU, Penulis Buku Best Seller “Terima Kasih IBU”.

“Jika ada yang pernah berniat menjadi pengusaha, namun teori atau metode umum belum mengubah mental block, maka wajib membaca buku ini. Perjalanan dan pembelajaran hidup Pak Anang Sujana bagaimana memulai usaha dan menjalankannya dengan modal iman yang teguh sangat inspiratif dan membuka mata kita.”

- Don Haidy Abel, Pembina Yayasan Progress Prima Pendidikan, Lembaga Konsultan    Pendidikan Tinggi ke Jerman, Pengusaha, Akademisi, dan Politisi.

"Nilai spiritualitas di dalam buku ini menenangkan kekhawatiran hati dan mengingatkan logika bahwa ada tangan-Nya yang bekerja di atas rencana manusia. Percayalah."

- Freddy Fernando (@freddyfernandoo), Penulis Buku "Secangkir Teh Inspirasi", Personal Activator @Kutipan_Anda, Operating Director RAF Media Indonesia.

Silahkan miliki buku ini klik disini

Menjadi Muslim Milyarder Modal Iman

Siapa sangka, lebih dari satu milenium yang lalu, Nabi Muhammad saw sudah memberikan jawaban bagi permasalahan hidup umat manusia zaman sekarang. Persoalan yang bahkan sering membuat kita bingung menyelesaikannya, seperti langkanya kejujuran, hilangnya kesabaran, terkikisnya ikhlas, dan sulitnya istiqamah akan mudah kita bereskan jika kita mengikuti akhlak beliau.

Mengikuti akhlak Rasulullah dan meneladani sikap beliau saat kita berhadapan dengan suatu masalah sama artinya dengan menapaki jalan lurus (ash-shirâthal mustaqîm) yang akan mengantarkan kita bukan hanya pada jawaban bagi masalah tersebut, namun juga pada ridha Allah SWT. Buku ini mencoba membedah masalah hidup sehari-hari masyarakat modern dan menguraikannya, dalam bahasa yang sederhana, dengan merujuk pada hadits-hadits Rasulullah saw. Selamat membaca!

"Buku ini menghadirkan role-model Rasulullah saw yang kepribadian dan prestasinya telah diakui para sejarawan dan dunia, melewati batas suku, bangsa, dan agama. Sebuah buku yang menarik untuk dibaca.”
~Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA.
Rektor UIN Jakarta

“Membaca buku ini, kita diajak merenungkan kembali khazanah akhlak ajaran Islam yang mulai tergerus hiruk-pikuk perubahan; sangat inspiratif!”
~Dr. Arief Subhan
Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta

“Jika Anda ingin memperoleh jawaban bagi berbagai permasalahan akhlak dan sosial saat ini, buku ini layak dijadikan bacaan utama!”
~Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, MA.
Pakar komunikasi dan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila

“Kelebihan buku ini antara lain terletak pada kelengkapan hadits Rasulullah saw yang menjadi dasar pijakannya. Untuk meneguhkan iman, ilmu, dan amal saleh, buku ini merupakan pilihan bacaan yang tepat.”
Prof. Dr. Rif’at Syauqi Nawawi, MA.
Pakar tafsir Al-Qur`an dan Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta

“Buku ini sarat dengan kisah teladan dari Nabi Muhammad saw dan para sahabat beliau. Buku ini dapat memperkaya wawasan keislaman dan membentuk kepribadian Muslim yang saleh: iman, ilmu, dan amalnya.”
~ Prof. Dr. Hj. Masyitoh Chusnan, M.Ag.
Pakar tasawuf dan Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Silahkan miliki buku ini klik disini

Selalu Ada Jawaban Selama Mengikuti Akhlak Rasulullah

Sudah bukan rahasia lagi jika harapan adalah pelita yang bisa menerangi, kepahitan cinta dan keputus asaan yang bisa membuat seorang lupa bahwa dirinya masih mempunyai Allah yang dengan percaya padanya kita tidak akan pernah kecewa

Sering kali sebagian dari kita berharap kepada sesama manusia dalam setiap urusan-urusan duniawi dalam hidupnya. Padahal manusia adalah perantara, dan hanya kepada Allah SWT tempat kita bersandar, tempat kita memohon kebaikan.

Terkadang keyakinan dalam diri seseorang baru akan kuat
Ketika ada sekelompok golongan yang mendukungnya Akan tetapi, jika tidak ada dukungan dari orang-orang tertentu maka dia akan langsung pesimis dan tidak mau lagi melangkah

Ini adalah suatu sikap yang salah yang sudah seharusnya kita tinggalkan dalam perjalanan hidup kita di dunia ini.

Ingatlah selalu bahwa motivasi hidup yang paling baik bagi kita 
hanya satu Yaitu Allah SWT yang maha kuasa atas segala sesuatu tidak ada suatu hal yang mustahil baginya, tidak ada hal apapun 
yang luput dari pengawasannya

Semua akan mungkin terjadi jika kita bisa membuka mata hati. tetap yakin bahwa kita tidak sendiri ada Allah yang mengetahui setiap apa yang kita lakukan didunia ini.

kembalilah kepada Sang Maha Pencipta. Dia yang tidak pernah jauh dari kita percayalah padanya dan jangan pernah ragu berdoalah.. 

Ya Allah bimbinglah langkahku jangan biarkan aku tersesat dan berpaling darimu karna hanya Engkau satu-satunya yang menunjukkan jalan hidupku.. 

Semoga Renungan Hikmah Singkat ini bermanfaat buat kita semua, terimah kasih sudah membaca.

oleh Moel Andre

Berharap Hanya Kepada Allah

Dengan kesabaran dan kegigihan, apa pun akan mungkin terjadi karena sesungguhnya keberhasilan tidak terletak di awal perjalanan kemudahan terletak di balik kesulitan keajaiban adalah hadiah bagi yang berani.

Karena sesunguhnya kesejahteraan adalah hak bagi yang bertahan. kedamaian adalah anugerah bagi yang bersabar dan kemuliaan adalah rahmat bagi yang ikhlas.

Maka bersabarlah, dan tetaplah setia kepada kebaikan yang selalu kamu yakini Ingatlah, Dengan kesabaran dan kegigihan, apa pun mungkin

dalam hidup ini kamu harus selalu optimis dengan mengharap pertolongan-Nya dan tidak pernah putus asa dari rahmat-Nya..

lingkungan dapat mempengaruhi pribadimu tapi kamu harus bertanggung jawab untuk apa yang telah kamu lakukan Dan tidaklah penting apa yang kamu miliki tapi yang penting adalah siapa kamu ini sebenarnya ..

Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya butuh beberapa detik saja untuk menghancurkannya. Tetap semangat untuk kehidupan yang lebih berarti..

Jika kamu tahu apa yang kamu inginkan, maka kejarlah dan dapatkan keinginanmu itu, Tetapi kamu harus menerima setiap kegagalan yang di terima, tanpa berkata, "aku tidak bisa jadi apa yang saya inginkan karena dia atau siapapun itu",

Dalam hidup ini, pasti akan ada yang kita miliki dan ada pula yang hanya bisa kita lihat dan tinggal pergi dalam hidup ini pasti kita akan berhasil dalam suatu hal dan kita juga pasti akan gagal dalam hal2 yang lain...

Semua orang mempunyai rencana dan kita berencana sambil menjalani rencana yang telah kita buat, dan hanya allah saja yang berhak memutuskan akhir dari segala upaya kita

Hidup harus selalu kita syukuri dan menerima apa yang ada. Jangan sampai menjalaninya dengan salah atau yang enggak bermutu, karena hidup cuma sekali..

Semoga Renungan Hikmah Singkat ini bermanfaat buat kita semua, terimah kasih sudah membaca .

oleh Moel Andre

Tetap Semangat, Selalu Optimis

oleh Moel Andre

Terkadang Kita merasa tidak kuat menghadapi cobaan yg begitu dahsyat. Setiap kali kita merasa sangat kehilangan setiap kali kita merasa begitu sendirian semua yang kau lihat hanyalah kegelapan dan rasa kehilangan yang begitu menyakitkan

Jangan pernah putus asa dan merasa sendiri dalam mengarungi gelombang kehidupan ini jika kita merasa tidak bisa bangkit kembali dan kita tidak mampu melihat jalan terbaik saat ini yakinlah bahwa Tuhan selalu ada dimana kita berdiri

Jika Allah berkehendak maka kita akan menemukan jalan kita
Jika Allah berkehendak maka segalanya akan mudah untuk kita
Jika Allah berkehendak maka tiada rasa gelisah didada kita
Jika Allah Berkehendak maka segalanya sesuai harapan kita

Tatkala kita melakukan satu kesalahan janganlah kamu pernah kehilangan harapan taubatlah kepadanya tuhan yang maha bijaksana angkatlah tangan kita memohon ampunan darinya

Jangan putus asa dan kehilangan kepercayaan sebab Allah SWT itu selalu ada di samping kita. Insya Allah kita akan menemukan jalan kita Insya Allah kita akan menemukan jalan

kembalilah kepada Sang Maha Pencipta. Dia yang tidak pernah jauh dari kita percayalah padanya dan jangan pernah ragu berdoalah.. 

Ya Allah bimbinglah langkahku jangan biarkan aku tersesat dan berpaling darimu karna hanya Engkau satu-satunya yang menunjukkan jalan hidupku.. 

Semoga Renungan Hikmah Singkat ini bermanfaat buat kita semua, terimah kasih sudah membaca.

Kembalilah Kepada Sang Maha Pencipta

oleh Moel Andre

Allah SWT telah menciptakan dunia beserta segala isinya Agar manusia bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya sebagai khalifah Allah dibumi ini, manusia dituntut Untuk memakmurkan dan melestarikan Alam ini Agar terhindar dari segala kehancuran. 

Adapun kencuran itu sendiri terbagi menjadi 2. Pertama: Kehancuran materi adalah kehancuran yang terjadi akhibat kecerobohan manusia dalam memanfaatkan hasil bumi ini, sehingga akan terjadi beberapa bencana Alam seperti banjir, tsunami, tanah longsor dan sebagainya.

Kedua: kehancuran moral adalah kehancuran yang terjadi Akibat hilangnya moral dalam tatanan kehidupan masyarakat seperti seseorang yang tidak rela menerima taqdir Allah SWT dari apa yang sudah ditetapkannya dalam setatusnya sebagai Laki-laki ataupun wanita. 

Sungguh apa pun yang telah kita peroleh dari memakmurkan bumi ini seperti harta, tahta, keturunan dan segala bentuk kesenangan duniawi semua itu berasal dari Allah SWT, dan akan kembali pada-Nya

kita manusia hanya diberi amanat untuk mempergunakannya dengan sebaik mungkin, bukan menggunakannya untuk kehidupan hedonis yang sebagian orang terperdaya olehnya

Sungguh, kehidupan Yang seperti itu tidak akan ada penghujuangnya selain kematian yang terus mengintai dan akan menghukumnya. 

Imam Al-Ghazali bertanya pada muridnya “Apa yang paling berat di dunia ini? ”Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban kalian benar, kata Imam Al-Ghazali, tapi yang paling berat adalah “memegang AMANAH”. Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Semoga Allah SWT memberi kita petunjuk dalam hidup yang kita jalani. 

Janganlah Jadi Pribadi Yang Lalai

1) Air matanya
semua sedia maklum air mata wanita adalah senjatanya. sehingga ada satu kisah pada zaman Umar, di mana Umar Khatab RA ketika mana beliau masih kafir dan berteguh pada prinsipnyanya telah dicairkan dengan air mata adiknya sehingga memasuki Islam seterusnya terpilih menjadi salah satu khalifah yang kuat pada zaman itu. tangisan adalah muara perasaan. tanpa sedar air mata itu dengan sendirinya mengalir bila mana ketika sedih, gembira, marah, dan terharu. kerana semua itu fitrah. dan mana syaitan bekerja pada saat ini, bila seorang wanita meminta sesuatu kepada lelaki sehingga mengalirkan air mata. apa yang seharusnya kaum adam lakukan? saya tekankan di sini. tetapkan hati dengan keputusan yang tepat.

2) Senyumannya
senyuman adalah simbolik kecantikan. dan senyuman wanita sangat mudah dijadikan syaitan dalam melenturkan hati lelaki. apatah lagi senyuman dari si cantik manis. dan kerana itu Allah telah berfirman dalam surah An-Nur (ayat 30-31) : "katakanlah kepada lelaki beriman, agar mereka menjaga pandanggannya, dan katakanlah kepada wanita beriman, agar mereka menjaga pandangannya." solusinya adalah jagalah pandangan wahai akhi wa ukhti.

3) Tutur katanya
wanita ni memiliki suara yang berbeda berbanding lelaki. nada suaranya lembut. SubhanAllah. karena itu, syaitan menjadikan ia sebagai senjata. tambah lagi suara yang sengaja dimanja-manjakan. Bisa buat cair hati si kaum adam mendengarnya. oleh yang demikian, wahai wanita sedunia. berbicaralah dengan nada yang tegas. karena manja seorang wanita itu selayaknya bagi mereka yang halal saja.

4) Lirikan matanya
Sesetengah berpendapat, kecantikan seseorang terletak pada matanya. jika bulat bundar mata wanita itu, maka cantiklah wanita itu. namun cantik itu subjektif. secara logiknya, bila mana seseorang itu senyum/ketawa dengan automatiknya mata juga tersenyum dan kelihatan seperti bersinar. tak percaya? nanti anda perhatikan sendiri. bersinarnya mata wanita itu ketika gembira sangat meruntum jiwa kaum adam. karena itu syaitan menjadikan mata wanita itu senjata melemahkan lelaki. dan lebih membuat lelaki berasa 'aughmmm!' dengan kita bila mana wanita itu mendelikan matanya. lelaki merasakan sangat seksi.

5) Keyakinannya
Sbagian lelaki tidak memandang pada kecantikan wanita semata. tapi, dengan keyakinan dan kecerdasan wanita itu serta merta buat buat lelaki itu cair. wanita yang kelihatan yakin bila berbicara, sentiasa happy go lucky, ciri-ciri ini sangat meluluhkan hati lelaki walaupun rupa parasya dalam level 'Lumayan

Bagaimana jalan penyelesainya?

kedua-duanya, sama ada lelaki mahu pun perempuan. yang paling penting, bersihkan diri dan sucikan hati. banyakkan istighfar. terutamanya bila hati dan fikiran terlintas untuk buat perkara yang tidak baik. selalu ingat Allah. sebab Allah tak pernah lupa kita. semoga dengan itu kita terhindar dari bisikan dan godaan syaitan laknatullah.

Apakah 5 kekuatan wanita itu?

Kita telah mengetahui bahwa lailatul qadar adalah malam yang penuh kemuliaan dan punya keistimewaan dibanding malam-malam lainnya. Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5).

Mujahid mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan, yaitu untuk amalan, puasa, dan shalat malam yang dilakukan ketika itu lebih baik dari seribu bulan.

Mengenai i’tikaf yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam hadits ‘Aisyah berikut ini, di mana beliau berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, hingga Allah mewafatkan beliau. Kemudian istri-istri beliau melakukan i’tikaf setelah beliau wafat.” (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).
Dari Abu Hurairah, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan i’tikaf di bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun di tahun beliau diwafatkan, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 2044).

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk meraih lailatul qadar. Beliau ingin mengasingkan diri dari berbagai kesibukan dengan melakukan i’tikaf. Dengan menyendiri akan lebih berkonsentrasi dalam dzikir dan do’a. Dan beliau pun benar-benar menjauh dari manusia kala itu.”

Imam Ahmad sampai berpendapat bahwa orang yang beri’tikaf tidak dianjurkan bergaul dengan orang-orang sampai pun untuk tujuan mengajari ilmu atau membaca Al Qur’an. Imam Ahmad katakan bahwa yang lebih baik adalah menyendiri dan mengasingkan diri dari orang banyak untuk bermunajat pada Allah, serta berdzikir dan berdo’a. I’tikaf ini bermaksud menyendiri yang disyari’atkan dan hanya dilakukan di masjid. I’tikaf di masjid dilakukan agar tidak ketinggalan shalat Jum’at dan jama’ah. Namun kalau mengasingkan diri dengan tujuan supaya luput dari shalat Jum’at dan shalat jama’ah, maka jelas terlarang.

Ibnu ‘Abbas pernah ditanya mengenai seseorang yang puasa di siang hari dan mendirikan shalat malam lalu tidak menghadiri shalat Jum’at maupun shalat berjama’ah. Jawaban Ibnu ‘Abbas, “Ia di neraka.”

Menyendiri yang disyari’atkan adalah dilakukan di masjid, terkhusus di bulan Ramadhan, terkhusus lagi di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan.
Demikian ringkasan dari penjelasan Ibnu Rajab dalam Lathoiful Ma’arif, hal. 338.
Semoga kita dimudahkan untuk meraih malam seribu bulan, dan moga juga kita dimudahkan untuk melakukan i’tikaf.

I’tikaf Demi Raih Lailatul Qadar


Berikut adalah 10 ciri-ciri
umum sebagian orang yang
kemungkinan “gagal” meraih
fadhilah Ramadhan
(wallahu A’lam)




  • Kurang optimalnya persiapan dalam melakukan ‘warming up’.
  • Target khatam Al Qur’an tak terpenuhi.
  • Berpuasa tidak menghalangi seseorang dari dosa mulut (menggunjing, bohong, dan sebagainya).
  • Tidak mampu memelihara mata dari melihat yang diharamkan.
  • Ketika malam-malam Ramadhan tak ada bedanya dengan malam-malam biasanya.
  • Saat berbuka menjadi saat melampiaskan semua keinginan nafsunya yang tertahan.
  • Ketika Ramadhan tidak dioptimalkan untuk banyak mengeluarkan infaq dan sedekah.
  • Ketika hari-hari menjelang Idul fitri sibuk dengan persiapan lahir, tetapi tidak sibuk memperbanyak ibadah.
  • Ketika Idul fitri dan selanjutnya dirayakan seperti hari ‘merdeka’ dari penjara untuk kembali melakukan berbagai penyimpangan.
  • Pasca Ramadhan nyaris tak ada ibadah yang ditindak lanjuti.

Jika ciri-ciri di atas melekat pada diri kita, sebagian ataupun malah keseluruhan, maka marilah kita banyak-banyak beristighfar dan berdoa berharap Ramadhan kemudian tidak mengulanginya.

Jika ciri-ciri di atas dirasa ada yang kurang, Silahkan ditambahkan di komentar…

rep. sarkub

10 Ciri Orang Yang Gagal Meraih Fadhilah Ramadhan

Oleh Moel Andre

Duhai jilbab yang masih terlipat, jadilah perisai dan tabir untuk diriku, Mengukir simbol kehormatan dan kesucianku, Menjelmalah laksana rumah berjalan untukku, Dan kusematkan setangkai cinta untukmu…

Jadikanlah jilbab seperti bagian dari dirimu, yang jika tanpanya, engkau merasa tidak sempurna. Jadikanlah dia penutup auratmu yang lebih baik dari sekedar pakaianmu.

Jadikanlah dia sebagai lambang rasa malumu yang akan memancarkan wibawamu.

Jadikanlah dia sebagai simbol kehormatan dan kesucianmu yang harus engkau jaga sebaik-baiknya. Maka dengan begitu, engkau akan mencintainya tanpa engkau sadari bahwa engkau telah mencintainya.

Yang Cantik yang Berjilbab

Tak ada ajaran yang lebih memuliakan wanita daripada Islam. Dalam Islam, wanita ditempatkan sebagai makhluk yang sangat mulia. Dan Islam sangat menjaga kehormatan juga kesucian seorang wanita. Namun, di belantara fitnah saat ini, wanita yang berkomitmen untuk menjaga kesucian dirinya karena masih menjadi kaum minoritas, seringkali mendapat cemoohan, sindiran, dan cibiran dari kaum mayoritas yang awam. Bahkan, ada yang menyebut dirinya sebagai kaum feminis yang dengan tidak disadari oleh akal sehatnya telah menjerumuskan kaum wanita kepada lembah kehinaan yang bersampul keadilan. Wal’iyyadzubillah.

Wanita shalihah yang kecantikannya ibarat mutiara yang terbenam dalam lumpur, masih menjadi kaum minor di kalangan masyarakat yang sudah mulai terpengaruh dengan eksistensi kaum liberal, permisif dan hedonis masa kini.

Merekalah para wanita perindu Surga yang selalu nyaman tinggal di istananya. Merekalah para bidadari yang bersembunyi di balik tabir, kain longgar, dan lebarnya kerudung. Ketika orang mendatanginya, ia begitu khawatir jika keindahannya terlihat, dan dia tidak mungkin menjumpai tamunya dalam busana ala kadarnya yang bisa menampakkan ’simpanan berharga’nya. Mereka masih dan akan selalu menjadi misteri bagi para lelaki asing di luar sana. Tetapi mereka berubah bagai bidadari jika bertemu dengan kekasih hati yang telah menjadi suaminya.

Tahukah engkau siapa kekasih hati sang bidadari? Hanyalah lelaki shalih yang berani mendamba dirinya dan hanya lelaki shalih yang memiliki nyali mempersuntingnya sekaligus meminangnya menjadi belahan hati. Sedangkan lelaki hidung belang, miskin agama, dan kurang bermoral hanya akan mendekati ‘daging-daging’ yang dijual bebas di pasaran. Para wanita yang menjajakan dirinya di pinggir-pinggir jalan, di mal-mal, di tempat-tempat dugem, dan yang sejenisnya. Sekalipun mereka tidak merasa atau tidak berniat ‘menjual diri’ mereka, akan tetapi pada hakikatnya jika mereka mau menyadari, merekalah ‘mangsa’ empuk para serigala manusia yang kelaparan.

Maka saudariku, manakah yang lebih engkau sukai, si cantik yang diobral murah? Ataukah si shalihah yang penuh rahasia?

Sekarang, mari kita simak peringatan yang pernah disampaikan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya, yaitu:

  1. suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor-ekor sapi betina yang mereka pakai untuk mencambuk manusia;
  2. wanita-wanita yang berpakaian (namun) telanjang, yang kalau berjalan berlenggak-lenggok menggoyang-goyangkan kepalanya lagi durhaka (tidak ta’at), kepalanya seperti punuk-punuk unta yang meliuk-liuk.
Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak dapat mencium bau wanginya, padahal bau wanginya itu sudah tercium dari jarak sekian dan sekian.” ( Muslim dan Ahmad)

Akhirnya…

Apabila Allah telah mengadakan suatu ketentuan, maka sudah pasti dalam ketentuan itu terkandung kebaikan yang amat besar. Maka dengan meragukan ketentuan dan perintah-Nya, engkau telah melewatkan banyak kebaikan yang seharusnya engkau dapatkan. Coba engkau simak firman Allah yang berbunyi,

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menerapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36)

Alasan apapun yang masih tersimpan dihatimu untuk tidak melaksanakan perintah berjilbab ini, janganlah engkau dengarkan dan engkau turuti. Semua itu hanyalah was-was setan yang dihembuskannya ke dalam hati-hati manusia, termasuk ke dalam hatimu.

Bersegeralah menuju jalan ketakwaan, karena dengan begitu engkau akan melihat sosok lain yang jauh lebih baik dari dirimu pada hari ini. Engkau akan dengan segera mendapati rentetan kasih sayang Allah yang tidak pernah engkau sangka-sangka sebelumnya. Jadi, apa lagi yang kau tunggu? Bentangkanlah jilbabmu dan tutupilah cantikmu. Belajarlah menghargai dirimu sendiri dengan menjaga jilbabmu, maka dengan begitu orang lain pun akan ikut menghargai dirimu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya,“Barang siapa di antara kalian mampu membuat perlindungan diri dari api Neraka meskipun hanya dengan sebiji kurma, maka lakukanlah.” (Dari jalan ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu)

Ku susun risalah ini sebagai bentuk kasih sayang terhadapmu sembari terus berdo’a semoga Allah membuka hatimu untuk menerima ‘kado istimewa’ ini dengan ikhlas. Bukan karena apa maupun karena siapa, tapi karena semata-mata engkau mengharapkan keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla terhadap dirimu.

Semoga risalah yang hanya mengharap Wajah Allah ini dapat mengetuk pintu yang tertutup dan membangunkan nurani yang lama tertidur lelap, sehingga membangkitkan semangat untuk bersegera menuju ketaatan kepada Allah. Semoga Allah memasukkan dirimu, diriku, dan seluruh kaum muslimin yang berpegang teguh dalam tali agama Allah ke dalam golongan orang-orang yang ditunjuki jalan yang lurus.

Belajarlah Mencintai Jilbabmu

Oleh Moel ANdre

Sahabat, Mari kita merenung sejenak tentang apa yang telah kita perbuat dalam kehidupan kita, mulai dari setiap perbuatan baik yang kita abaikan dan segala keburukan yang kita lakukan.

Orang yang bijak adalah mereka yang mau belajar dari kesalahan dan berusaha dengan segala daya upaya untuk tidak mengulanginya lagi

Ada banyak hal dalam hidup iniyang harus kita renungkan karena jika seorang tidak melihat kebelakang, tentu dia tidak akan bisa mengetahui nasib orang yang ditinggakan dalam hidup ini.

Yang besar itu adalah hawa nafsu karena hawa nafsu manusia yang memiliki akal fikiran bisa lebih rendah perbuatannya dari binatang, semua itu karena mereka memiliki mata tapi seakan2 tidak bisa melihat, dan mereka memiliki hati yang tidak pernah mau untuk memahami..

Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari kebodohan yang menyebabkan hati kita mati. Sesungguhnya yang berat itu Amanah, karena amanah adalah sesuatu yang harus dipertanggung jawabkan.

Seperti halnya, waktu, kesempatan bernafas kesempatan menuntut ilmu dan kesempatan menjalani kehidupan, adalah bentuk bagian dari bentuk amanah-amanah yang harus kita pertanggung jawabkan dihari pembalasan

Dalam kehidupan yang sedang kita jalani sebenarnya yang paling susah itu adalah Ikhlas akan apa yang telah terjadi karena sudah menjadi sifat manusia yang merasa memiliki, padahal semua yang ada pada kehidupan kita, baik itu harta, istri anak, dan semuanya adalah milik allah SWT. yang akan kembali padanya dan takkan kita bawa menghadapnya dipadang mahsyar nantinya

Bagitu banyak orang yang merasa berat untuk melakukan kebaikan, baik itu kepada sesamanya atau kepada dirinya sendiri hal itu sudah lumrah terjadi karena sesuatu yang paling mudah dilakukan seorang adalah berbuat dosa.

Saat ini jika kamu berada dalam zona dosa yang begitu banyak jangan pernah putus asa, cobalah luruskan hati, dan tenangkan jiwa jujurlah kepada dirimu sendiri karena yang paling jujur itu hati nurani dan bersujudlah memohon ampun kepada-Nya

Semoga hati dan jiwamu kembali dirahmatinya karena sesungguhnya, yang ditunggu Allah SWT adalah permohonan taubat setiap hamba-Nya. Semoga Renungan Hikmah kali ini bermanfaat

Cobalah Luruskan Hati, dan Tenangkan Jiwa


Oleh Moel Andre

Ketika kamu bisa merasakan perihnya dihianati saat itu kamu belajar pentingnya menepati janji kamu juga akan bisa mengerti bahwa jalan hidup tidak selamanya datar maka, kamu harus tegar

Tidak masalah jika sebagian orang memandangmu sebelah mata, tapi kamu harus buktikan bahwa kamu masih punya potensi yang bisa dikembangkan sehingga kamu menemui jalan kesuksesan yang kamu dambakan dan pada akhirnya nanti mereka akan terdiam membisu dengan tatapan kosong penuh tanda tanya dan penyesalan

Dalam hidup ini, kamu tidak perlu memikirkan semua perkataan, kritikan mereka yang tidak pernah merasakan apa yang sudah kamu alami, karena hal itu hanya akan menjadi beban fikiran dan melemahkan semangat perjuangan yang selama ini begitu besar dalam dirimu

Hidup ini hanya ujian yang sudah dijanjikan Allah maka, jalanilah, hadapilah seolah-olah kamu kesatria dimedan laga, dengan semangat pantang menyerah sebelum lembaran terakhir hidup kamu berakhir

Jika suatu saat nanti kamu berjibaku mencari harta sehingga kamu melupakan untuk apa kamu diciptakan cepat-cepatlah kamu luruskan niat dan tata kembali hatimu dengan melihat kedalam dirimu, dan katakan dalam hati sudah berapa jauh aku berjalan? sudahkan aku siap menghadap Allah? Tuhan sekalian alam

Semoga Renungan Hikmah Singkat ini bermanfaat buat kita semua, terimah kasih sudah membaca.

Sudah Berapa Jauhkah Aku Berjalan?

Oleh Moel Andre


Hiduplah hanya untuk mendekat kepada illahi setiap kesibukan yang dilakukan sepanjang hari, niatkan untuk mengingat kemana akan kembali dan siapa Tuhan yang menguasai relung hati


Takkan bisa mendekat kepada Allah SWT jika hati dipenuhi dengan nafsu & cinta dunia mereka yang hatinya diselimuti syahwat belaka takkan pernah merasakan manisnya iman dihatinya hanya ada kebahagiaan semu yang mengikis usianya

Mereka yang dunia menjadi tujuan hidupnya segala yang ada hanya untuk kesenangan semanta hari-hari hanya mencari bagaimana memuaskan nafsunya tidak tahu bahwa ada malikat yang mencatat amal perbuatannya setiap kata, setiap tindakan, setiap pandangan akan dihisab nantinya

Ucapkan Astagfirullahalazim..
Jika mata melihat sesuatu yang bukan haknya
Jika tangan memegang sesuatu yang dilarangnya
Jika lidah mengatakan sesuatu yang dusta
Jika kaki melangkah ketempat yang tak diridhoinya
Ucapkanlah astagfirullah atas segala dosa-dosa

Mendekatlah kepada Allah yang kekuasaannya meliputi segalanya, mendekatlah dengan penuh keikhlasan mendekatlah dengan penuh kesyukuran . Semoga rahmatnya menjadi bintang kehidupan ang berpijar terang menerangi setiap perjalanan

Semoga Bermanfaat Bwat kita semuaaa.

Mendekatlah Kepada Allah


Bulan Ramadhan dan berpuasa didalamnya benar-benar kesempatan terbaik untuk beramal. Bulan Ramadhan adalah kesempatan menuai pahala melimpah. Banyak amalan yang bisa dilakukan ketika itu agar menuai ganjaran yang luar biasa. Dengan memberi sesuap nasi, secangkir teh, secuil kurma atau snack yang menggiurkan, itu pun bisa menjadi ladang pahala. Maka sudah sepantasnya kesempatan tersebut tidak terlewatkan.

Inilah janji pahala yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

Dalam Kitab Faidul Qodhir, 6/243 dijelaskan bahwa : Al Munawi rahimahullah menjelaskan bahwa memberi makan buka puasa di sini boleh jadi dengan makan malam, atau dengan kurma. Jika tidak bisa dengan itu, maka bisa pula dengan seteguk air.

Ath Thobari rahimahullah menerangkan,

“Barangsiapa yang menolong seorang mukmin dalam beramal kebaikan, maka orang yang menolong tersebut akan mendapatkan pahala semisal pelaku kebaikan tadi. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar bahwa orang yang mempersiapkan segala perlengkapan perang bagi orang yang ingin berperang, maka ia akan mendapatkan pahala berperang. Begitu pula orang yang memberi makan buka puasa; ( orang berpuasa ) atau memberi kekuatan melalui konsumsi makanan bagi orang yang berpuasa, maka ia pun akan mendapatkan pahala berpuasa .” (Syarh Ibnu Baththol, 9/65)

Di antara keutamaan lainnya bagi orang yang memberi makan berbuka adalah do’a dari orang yang menyantap makanan berbuka. Jika orang yang menyantap makanan mendoakan si pemberi makanan, maka sungguh itu adalah do’a yang terkabulkan. Karena memang do’a orang yang berbuka puasa adalah do’a yang mustajab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terdzolimi.” HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396.

Mustajabnya Doa Orang Berpuasa


Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

( Tuhfatul Ahwadzi, 7/194 )

Apalagi jika orang yang menyantap makanan tadi mendo’akan sebagaimana do’a yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam praktekkan, maka sungguh rizki yang kita keluarkan akan semakin barokah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى

“Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii”
[Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku] HR. Muslim no. 2055.

Ketika berbuka kita berkumpul dengan orang-orang shalih. Orang yang berpuasa adalah orang-orang yang sholih yang bisa mendo’akan kita ketika mereka berbuka. Dan harta terbaik adalah harta yang berada di sisi orang yang sholih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada ‘Amru bin Al ‘Ash,

يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

“Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta di tangan hamba yang Shalih.” HR. Ahmad 4/197.

Dengan banyak berderma melalui memberi makan berbuka dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga.(Lathoif Al Ma’arif, 298.)

Dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ »

“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.”

HR. Tirmidzi no. 1984.
Seorang yang semangat dalam kebaikan pun berujar,

“Seandainya saya memiliki kelebihan rizki, di samping puasa, saya pun akan memberi makan berbuka orang berpuasa. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Sungguh pahala melimpah seperti ini tidak akan saya sia-siakan. Mudah-mudahan Allah pun memudahkan saya untuk berpuasa dan memberi makan orang berpuasa.


Keutamaan Memberi Buka (makanan berbuka) Untuk Orang Berpuasa

Di sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah momen yang baik untuk banyak beramal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mencontohkan hal ini, beliau lebih semangat beramal di akhir-akhir Ramadhan. Ada dua alasan kenapa bisa demikian. Pertama, karena setiap amalan dinilai dari akhirnya. Kedua, supaya mendapati lailatul qadar.

Lailatul Qadar Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)

Lebih Serius dalam Ibadah di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).

Hadits di atas menunjukkan keutamaan beramal sholih di 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan. Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan punya keistimewaan dalam ibadah dari hari-hari lainnya di bulan Ramadhan. Ibadah yang dimaksudkan di sini mencakup shalat, dzikir, dan tilawah Al Qur’an.

Hadits tersebut juga menunjukkan anjuran membangunkan keluarga yaitu para istri supaya mendorong mereka melakukan shalat malam. Lebih-lebih lagi di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.

Membangunkan keluarga di sini merupakan anjuran di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, namun anjuran juga untuk hari-hari lainnya. Karena keutamaannya disebutkan dalam hadits yang lain,

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِى وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِى وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang di malam hari melakukan shalat malam, lalu ia membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan, maka ia memerciki air pada wajahnya. Semoga Allah juga merahmati seorang wanita yang di malam hari melakukan shalat mala, lalu ia membangungkan suaminya. Jika suaminya enggan, maka istrinya pun memerciki air pada wajahnya.” (HR. Abu Daud no. 1308 dan An Nasai no. 1148. Sanad hadits ini hasan kata Al Hafizh Abu Thohir).

Sufyan Ats Tsauri berkata, “Aku sangat suka pada diriku jika memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk bersungguh-sungguh dalam menghidupkan malam hari dengan ibadah, lalu membangunkan keluarga untuk shalat jika mereka mampu.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 331).

Yang dimaksud dengan menghidupkan sepuluh hari terakhir atau menghidupkan malam lailatul qadar adalah dengan menghidupkan mayoritas malamnya, tidak mesti seluruhnya. Demikian pendapat ulama Syafi’iyah. Bahkan sebagaimana dinukil dari Imam Syafi’i, keutamaan tersebut didapat bagi orang yang menghidupkan shalat ‘Isya’ secara berjama’ah dan shalat Shubuh secara berjama’ah. Lihat Lathoiful Ma’arif, hal. 329.
Semoga Allah memudahkan kita bersemangat dalam ibadah di akhir-akhir Ramadhan.

Referensi:
Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 5: 51-52.
Lathoif Al Ma’arif fii Maa Limawasimil ‘Aam minal Wazhoif, Ibnu Rajab Al Hambali, terbitan Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id

Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Kita telah mengetahui bahwa lailatul qadar adalah malam yang penuh kemuliaan dan punya keistimewaan dibanding malam-malam lainnya. Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5).

Mujahid mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan, yaitu untuk amalan, puasa, dan shalat malam yang dilakukan ketika itu lebih baik dari seribu bulan.

Mengenai i’tikaf yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam hadits ‘Aisyah berikut ini, di mana beliau berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, hingga Allah mewafatkan beliau. Kemudian istri-istri beliau melakukan i’tikaf setelah beliau wafat.” (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan i’tikaf di bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun di tahun beliau diwafatkan, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 2044).

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk meraih lailatul qadar. Beliau ingin mengasingkan diri dari berbagai kesibukan dengan melakukan i’tikaf. Dengan menyendiri akan lebih berkonsentrasi dalam dzikir dan do’a. Dan beliau pun benar-benar menjauh dari manusia kala itu.”

Imam Ahmad sampai berpendapat bahwa orang yang beri’tikaf tidak dianjurkan bergaul dengan orang-orang sampai pun untuk tujuan mengajari ilmu atau membaca Al Qur’an. Imam Ahmad katakan bahwa yang lebih baik adalah menyendiri dan mengasingkan diri dari orang banyak untuk bermunajat pada Allah, serta berdzikir dan berdo’a. I’tikaf ini bermaksud menyendiri yang disyari’atkan dan hanya dilakukan di masjid. I’tikaf di masjid dilakukan agar tidak ketinggalan shalat Jum’at dan jama’ah. Namun kalau mengasingkan diri dengan tujuan supaya luput dari shalat Jum’at dan shalat jama’ah, maka jelas terlarang.

Ibnu ‘Abbas pernah ditanya mengenai seseorang yang puasa di siang hari dan mendirikan shalat malam lalu tidak menghadiri shalat Jum’at maupun shalat berjama’ah. Jawaban Ibnu ‘Abbas, “Ia di neraka.”

Menyendiri yang disyari’atkan adalah dilakukan di masjid, terkhusus di bulan Ramadhan, terkhusus lagi di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan.

Demikian ringkasan dari penjelasan Ibnu Rajab dalam Lathoiful Ma’arif, hal. 338.
Semoga kita dimudahkan untuk meraih malam seribu bulan, dan moga juga kita dimudahkan untuk melakukan i’tikaf.

Referensi:
Lathoif Al Ma’arif fii Maa Limawasimil ‘Aam minal Wazhoif, Ibnu Rajab Al Hambali, terbitan Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id

I’tikaf Demi Raih Lailatul Qadar

Oleh Dr Muhammad Hariyadi MA

Allah SWT tidak menurunkan syariat_bagi umat manusia, kecuali dengan menyertakan sisi edukasi yang terdapat di dalamnya.

Shalat misalnya, disyariatkan oleh Allah SWT agar manusia terdidik menjauhkan diri dari perbuatan tercela dan kemungkaran. Zakat mendidik manusia untuk bersikap dermawan terhadap sesama. Haji mendidik manusia untuk mengembangkan kesadaran manusia sebagai umat yang satu di hadapan Allah SWT.

Puasa Ramadhan yang memiliki manfaat kesehatan, fisik, mental maupun spiritualnya dengan tujuan menjadi pribadi yang bertakwa, juga memiliki sisi edukasi sebagai berikut: 

Pertama, puasa mendidik hati dan jiwa kita untuk menjadi pribadi yang ihlas, yaitu melakukan segala sesuatu dengan standar dan tujuan karena Allah SWT. Hal tersebut karena syah dan tidaknya puasa, batal dan tidaknya, ihlas dan tidak benernya, yang mengetahui hanya pribadi orang yang berpuasa dan Allah SWT. 

Maka dengan puasa, hendaknya setiap orang dapat mengembangkan seluruh perbuatannya dengan orientasi hanya kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman: "Dan tidaklah mereka diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan ihlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama." (QS. Al-Bayyinah: 5). 

Kedua, puasa mendidik kita untuk memberi fokus pada kehidupan akhirat, di sela-sela kesibukan kita dengan urusan dunia. Maka orang yang berpuasa bukan hanya rela menahan diri dari kebutuhan makan, minum, dan seksualnya, melainkan lebih dari itu siap mengontrol pembicaraan, pendengaran, perbuatan dan hatinya demi untuk menggapai ridha Allah SWT. Allah SWT berfirman: "Dan sungguh, yang kemudian (akhirat) itu lebih baik bagimu dari pada yang permulaan (dunia)." (QS. Ad-Duha: 4). 

Ketiga, puasa mendidik kita sebagai pribadi yang gemar beribadah kepada Allah SWT dengan tanpa melakukan bantahan, sanggahan, dan keberatan apapun bila diperintah oleh Allah SWT. Hal tersebut karena ketundukan dan ibadah merupakan fitrah manusia yang sejalan dengan ketundukan seluruh makhluk Tuhannya. 

Maka orang yang berpuasa akan menyelesaikan ibadahnya sesuai syariat Tuhan sebagai bentuk ketundukan dan ibadah kepada Tuhan. Allah SWT berfirman: "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembah kepadaku." (QS. Adz-Dzariyat: 56). 

Keempat, puasa mendidik kita agar memiliki rasa kebersamaan sesama muslim di dalam menjalankan kebajikan, sebab dengan kebersamaan tersebut ibadah puasa yang pada asalnya berat menjadi ringan. Maka kewajiban puasa yang mengenai pada setiap jiwa muslim yang baligh menjadikan sifat dari ibadah puasa yang berat menjadi ringan karena setiap pribadi merasakan kebersamaan dan menghasilkan semacam "oase" yang homogen". 

Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183).

Kelima, puasa mendidik kita agar selalu ingat kepada kaum fakir dan miskin. Dengan ketaatan kita menahan rasa lapar dan haus, dan mungkin sebagian lagi lemas untuk beraktivitas merupakan salah satu upaya untuk ikut merasakan perasaan yang sama yang dirasakan oleh kaum fakir miskin.

Jika puasa yang kita lakukan berhasil mendidik diri kita mencapai lima hal tersebut dan mengimplementasikannya pada saat dan di luar bulan puasa, maka kiranya dapat dikatakan bahwa puasa kita tidak keluar dari maksud dan tujuannya. Wallahu A'lam.

Sisi Edukasi Ibadah Puasa

REPUBLIKA.CO.ID, Virgiawan Sentosa harus menjalankan puasanya tanpa sahur. Dia hanya menenggak air putih untuk membuat tubuh cekingnya bertahan. Pemuda itu harus berjuang hidup di Pasar Kemiri, Depok, menjual kantong plastik.
Vian, nama sapaannya, baru dua pekan ini resmi menjadi mualaf. Dia mengucap syahadat di Masjid Cut Meutia, Jakarta.

“Aku selalu berpikiran bahwa Allah tidak pernah memberi cobaan yang melampau kekuatan hambanya. Maka dari itu aku selalu percaya bahwa Allah akan selalu memberi jalan”, ujar Vian, saat diwawancara melalui telepon, di Jakarta, Senin (15/7)

Vian berasal dari Bandung. Kedua orangtuanya beragama Katolik. Sejak kecil, Vian pun dididik dengan tata cara Katolik. Hanya, kegelisahan melanda Vian duduk di bangku SD. Dia selalu merasakan kegelisahan dalam hatinya.

Menurutnya, ketika itu  dia selalu merasa tidak tenang, sedih, dan bahkan menangis. Saat  masuk SMP, dia pun sering bermain dengan temannya di belakang komplek. Mayoritas teman-temannya adalah seorang Muslim. Sehingga, dia sering diajak untuk ikut ke mushola pada saat teman-temannya melaksakan sholat.
Diam-diam, Vian sering memperhatikan ibadah kawan-kawan sepermainannya itu. Dia memperhatikan bagaimana gerakan-gerakan sholat, apa saja syarat untuk sholat dan sebagainya.

Tanpa sepengetahuan keluarga dan teman-temannya, gerakan-gerakan sholat ini dipraktikkan oleh Vian di rumahnya meski belum memahami apa saja bacaan-bacaannya.

Sejak SMP, Vian sering tidak masuk kegiatan ibadah di gereja meski mengaku kepada ibunya jika dia pergi ke Gereja. Dia mengaku, sudah tidak lagi ingin mempelajari tentang agama Katolik dan berniat meninggalkannya.

Di masa SMA hati Vian semakin mantap untuk terus mempelajari segala hal tentang Islam. Walaupun secara diam-diam, dia tidak pernah putus asa mencari tahu tentang agama Islam ini.

Dia juga sering mencari keterangan dari teman-temannya. Hanya saja caranya adalah dengan tidak terlalu ingin tahu tentang Islam sehingga teman-temannya memberi informasi tanpa curiga meski dengan semangat memberikan jawaban yang diinginkan oleh Vian.

Semakin hari kecintaanya terhadap Islam semakin besar hingga akhirnya ia lulus SMA dan di terima di peguruan tinggi Institut Teknologi Bandung di jurusan Teknik Mesin.

Namun, di tengah-tengah perkulihannya, ia tidak bisa diam-diam terus untuk mempelajari Agama Islam. Dia pun bertekad untuk berkata jujur kepada kedua orang tuanya. Resiko sebesar apapun siap ia hadapi demi menjadi seorang Muslim.

Akhirnya tekad itu pun bulat, dia berkata jujur kepada ketua orang tuanya mengenai hal yang selama ini dilakukan semenjak SD. Mengetahu hal tersebut, kedua orang tua Vian sangat murka dengan apa yang selama ini dilakukan oleh Vian.

Beberapa pukulan oleh ayahnya di didapatkan oleh Vian. Lalu akhirnya, orang tuanya memberikan pilihan kepada Vian untuk tetap melanjutkan perkuliahannya dan tetap bergama Katolik atau segera angkat kaki dari rumah.

Karena kecintaannya kepada Islam sangat besar, ia pun memilih untuk pergi dari rumah berbekal sepotong kaos dan celana. Vian lantas pergi ke daerah Depok. Ketika itu, dia belum mengucapkan syahadat.
Surat-surat penting seperti Ijazah tidak di perkenankan oleh orang tuanya untuk di bawa olehnya. Karena orang tua nya telah berpikiran, dengan seperti itu, anaknya tidak akan lama bertahan hidup di jalanan dan akan segera kembali ke rumah.

Namun tekad Vian sudah bulat dan tetap pergi ke Depok mencari tempat tinggal baru. Sesampainya di Depok, ia menginap di sebuah rumah temannya yang beragama Katolik. Hanya, saat mengetahui niat Vian menjadi mualaf, dia pun diminta pergi.

Vian kemudian pindah ke Masjid Al Huda yang masih berada di daerah  Depok. Satu malam ia menginap di masjid itu dan bertanya kepada pengurus masjid, dimana ia bisa masuk Islam dan dibuatkan sertifikatnya.
Pengurus masjid memberi tahu bahwa di Masjid Cut Meutia yang berada di Jakarta Pusat, ia bisa masuk Islam dan mendapatkan sertifikat yang membuktikan bahwa ia adalah seorang yang beragama Islam.

Lalu ia pun langsung bergegas ke Masjid Cut Meutia tersebut. Sesampainya disana, ia mengutarakan maksud dari kedatangannya. Akhirnya, Vian  pun menjadi seorang Muslim.

Bak telaga di tengah padang tandus, Vian mengucap syahadat. Dia tidak pernah menyesal telah memeluk agama Islam. Di tengah cobaan yang ia temui, ia selalu berpikir bahwa Allah tidak pernah memberi cobaan yang melampaui kekuatan hamba-NYA.

Setelah menjadi Muslim, Vian kembali ke Depok dan tinggal di mushola yang berada di terminal Depok. Kesehariannya adalah menjual beberapa lembar kantong plastik.

Maksimal dalam satu hari pendapatan yang ia hasilkan hanya sebesar Rp 7 Ribu . Walaupun tidak seberapa, namun ia tetap bersyukur dari apa yang ia dapatkan. Ia biasanya menjual-jual plastik tersebut dari jam 6 pagi hingga jam 11 siang.

Beberapa hari yang lalu, ia mendapatkan kabar bahwa ayahnya meninggal karena serangan jantung. Disaat itu dia tidak memiliki uang untuk kembali ke Bandung.

Namun ia mengingat Ustaz Abdul Latief, seorang saksi pada saat Vian masuk Islam sekaligus pengurus Masjid Cut Meutia. Dia menceritakan semuanya kepada Ustaz, dan tidak tahu apa yang harus di lakukan olehnya. Akhirnya Ustaz Abdul Latief memberikan ongkos kepada Vian dan akhirnya Vian bisa pulang ke Bandung dan ingin melihat ayahnya untuk terakhir kalinya.

Sesampainya rumah di Bandung, tetap tidak ada perubahan dari ibunya. Vian dituduh sebagai biang keladi kematian ayahnya. Sebentar, dia melihat ayahnya, kemudian pergi meninggalkan rumah  atas permintaan ibunya.

Sebelum pergi, Vian mencoba memohon kepada ibunya agar memaafkannya dan memberikan surat-surat penting bagi Vian seperti ijazah. Namun, ibu Vian masih bersikeras dan tetap  tidak memberikan surat itu.
Akhirnya Vian pun kembali ke Depok dengan tidak membawa apa-apa. Kecintaannya terhadap Islam dibuktikan dengan berbagai resiko yang ia dapatkan. Demi Islam, ia rela hidupnya terlunta-lunta di jalanan. Dia percaya, Allah akan selalu membantunya dengan berbagai cara.

Kisah Vian Sang Mualaf, Tinggalkan Kuliah Hingga Diusir Orang Tua


Hudzaifah Ibnul Yaman lahir di rumah tangga Muslim, dipelihara dan dibesarkan dalam pangkuan kedua orang tuanya yang telah memeluk agama Allah, sebagai rombongan pertama.

Oleh sebab itu, Hudzaifah telah Islam sebelum dia bertemu muka dengan Rasulullah. Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau bagaikan seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya, kecuali dalam Perang Badar.

Dalam Perang Uhud, Hudzaifah ikut memerangi kaum kafir bersama dengan ayahnya, Al-Yaman. Dalam perang itu, Hudzaifah mendapat cobaan besar.

Dia pulang dengan selamat, tetapi bapaknya syahid oleh pedang kaum Muslimin sendiri, bukan kaum musyrikin. Kaum Muslimin tidak mengetahui jika Al-Yaman adalah bagian dari mereka, sehingga mereka membunuhnya dalam perang.

Rasulullah menilai dalam pribadi Hudzaifah Ibnul Yaman terdapat tiga keistimewaan yang menonjol. Pertama, cerdas, sehingga dia dapat meloloskan diri dalam situasi yang serba sulit.

Kedua, cepat tanggap, berpikir cepat, tepat dan jitu, yang dapat dilakukannya setiap diperlukan. Ketiga, cermat memegang rahasia, dan berdisiplin tinggi, sehingga tidak seorang pun dapat mengorek yang dirahasiakannya.

Kesulitan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin di Madinah ialah kehadiran kaum Yahudi munafik dan sekutu mereka, yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat.

Untuk menghadapi kesulitan ini, Rasulullah memercayakan suatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah Ibnul Yaman—dengan memberikan daftar nama orang munafik itu kepadanya. Itulah suatu rahasia yang tidak pernah bocor kepada siapa pun hingga sekarang.

Dengan memercayakan hal yang sangat rahasia itu, Rasulullah menugaskan Hudzaifah memonitor setiap gerak-gerik dan kegiatan mereka, untuk mencegah bahaya yang mungkin dilontarkan mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Karena inilah, Hudzaifah Ibnul Yaman digelari oleh para sahabat dengan "Shahibu Sirri Rasulullah (Pemegang Rahasia Rasulullah).

Pada puncak Perang Khandaq, Rasulullah memerintahkan Hudzaifah melaksanakan suatu tugas yang amat berbahaya. Beliau mengutus Hudzaifah ke jantung pertahanan musuh, dalam kegelapan malam yang hitam pekat.

"Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh. Pergilah engkau ke sana dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan data-data yang pasti. Dan laporkan kepadaku segera!" perintah beliau.

Hudzaifah pun bangun dan berangkat dengan takutan dan menahan dingin yang sangat menusuk. Maka, Rasulullah berdoa, "Ya Allah, lindungilah dia, dari depan, dari belakang, kanan, kiri, atas, dan dari bawah."

"Demi Allah, sesudah Rasulullah selesai berdoa, ketakutan yang menghantui dalam dadaku dan kedinginan yang menusuk-nusuk tubuhku hilang seketika, sehingga aku merasa segar dan perkasa," tutur Hudzaifah.

Tatkala ia memalingkan diri dari Rasulullah, beliau memanggilnya dan berkata, "Hai Hudzaifah, sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai, dan kembali kepadaku!"

"Saya siap, ya Rasulullah," jawab Hudzaifah. Hudzaifah pun pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam.

Ia berhasil menyusup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah anggota pasukan mereka. Belum lama berada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba terdengar Abu Sufyan memberi komando.

"Hai, pasukan Quraisy, dengarkan aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat khawatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdengar oleh Muhammad. Karena itu, telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!"

Mendengar ucapan Abu Sufyan, Hudzaifah segera memegang tangan orang yang di sampingnya seraya bertanya, "Siapa kamu?" Jawabnya, "Aku si Fulan, anak si Fulan."

Sesudah dirasanya aman, Abu Sufyan melanjutkan bicaranya, "Hai, pasukan Quraisy. Demi Tuhan, sesungguhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi.

Hewan-hewan kendaraan kita telah banyak yang mati. Bani Quraizhah berkhianat meninggalkan kita. Angin topan menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu, berangkatlah kalian sekarang dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan berangkat."

Selesai berkata demikian, Abu Sufyan kemudian mendekati untanya, melepaskan tali penambat, lalu dinaiki dan dipukulnya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat.

Seandainya Rasulullah tidak melarangnya melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, tentu ia akan membunuh Abu Sufyan dengan pedangnya.

Hudzaifah Ibnul Yaman sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orang-orang munafik selama hidupnya, sampai kepada seorang khalifah sekali pun. Bahkan Khalifah Umar bin Khathtab, jika ada orang Muslim yang meninggal, dia bertanya, "Apakah Hudzaifah turut menyalatkan jenazah orang itu?" Jika mereka menjawab, "Ada," Umar turut menyalatkannya.

Suatu ketika, Khalifah Umar pernah bertanya kepada Hudzaifah dengan cerdik, "Adakah di antara pegawai-pegawaiku orang munafik?""Ada seorang," jawab Hudzaifah.

"Tolong tunjukkan kepadaku siapa?" kata Umar. Hudzaifah menjawab, "Maaf Khalifah, saya dilarang Rasulullah mengatakannya."

Walau demikian, amat sedikit orang yang mengetahui bahwa Hudzaifah Ibnul Yaman sesungguhnya adalah pahlawan penakluk Nahawand, Dainawar, Hamadzan, dan Rai.

Dia membebaskan kota-kota tersebut bagi kaum Muslimin dari genggaman kekuasaan Persia. Hudzaifah juga termasuk tokoh yang memprakarsai keseragaman mushaf Alquran, sesudah kitabullah itu beraneka ragam coraknya di tangan kaum Muslimin.

Ketika Hudzaifah sakit keras menjelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya pada tengah malam. Hudzaifah bertanya kepada mereka,"Pukul berapa sekarang?"Mereka menjawab, "Sudah dekat Subuh."

Hudzaifah berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari Subuh yang menyebabkan aku masuk neraka."Ia bertanya kembali, "Adakah kalian membawa kafan?"

Mereka menjawab, "Ada." Hudzaifah berkata, "Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam penilaian Allah, Dia akan menggantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika aku tidak baik dalam pandangan Allah, Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuhku."

Sesudah itu dia berdoa kepada Allah, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu, aku lebih suka fakir daripada kaya, aku lebih suka sederhana daripada mewah, aku lebih suka mati daripada hidup."

Sesudah berdoa demikian, ruhnya pun pergi menghadap Ilahi. Seorang kekasih Allah kembali kepada Allah dalam kerinduan. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya.

Sahabat Nabi Hudzaifah, Pemegang Rahasia Rasulullah

Masjid Istiqlal yang berada di kawasan Jakarta Pusat menjadi saksi seorang Bella Saphira mengucapkan kalimat syahadat, sebagai tanda kalau dirinya menjadi seorang mualaf. Didampingi beberapa kerabatnya, Bellla Saphira Veronica Simanjuntak menuju ke dalam area masjid.

Informasi yang didapat KapanLagi.com® di lapangan, dengan masuk Islam, Bella punya rencana besar ke depannya nanti, yaitu akan melangsungkan pernikahan dengan seorang jendral. Saat kabar tersebut akan dikonfirmasi, Bella sepertinya enggan berbagi kebahagiaan tersebut dengan awak media.

Usai mengucapkan syahadat di masjid terbesar se-Asia Tenggara itu, Bella langsung meninggalkan awak media yang sudah menunggunya. Pihak keluarga pun yang mendampinginya tidak mau diwawancara.

Bella terlihat cantik dengan menggunakan baju kaftan putih gradasi biru. Selama perjalanan menuju area masjid, Bella selalu menutupi wajah dengan kerudung hanya bagian mata saja yang terlihat. Dirinya tidak ingin momen sejarah tersebut diliput oleh media.

Rekan kameramen dan fotografer pun dilarang untuk menggambil gambar selama proses pembacaan syahadat.

rep. merdeka.com

Al Hamdulillah Ucap Syahadat Bella Saphira jadi mualaf

Oleh Habib Syarief Muhammad Alaydrus

Keberkahan hidup seseorang terlihat dari bagaimana cara ia memanfaatkan nikmat-nikmat Tuhan secara optimal. Dalam bahasa Al-Quran, hidup berkah merupakan manifestasi dari hayâtan thayyibatan (kehidupan yang baik), buah dari keimanan dan amal saleh yang memberikan pelakunya beragam kebaikan hidup: tubuhnya sehat; rezekinya mengalir, ibadahnya rajin, dan kebaikan lainnya.

Buku ini membahas secara lengkap bagaimana agar Anda bisa meraih hidup penuh berkah. Dengan membaca buku ini, Anda akan mengetahui:

• Rumah yang diberkahi Allah

• Makanan yang diberkahi Allah

• Rezeki yang diberkahi Allah

• Usia yang diberkahi Allah

• Waktu yang diberkahi Allah

• Pekerjaan yang diberkahi Allah

• Keturunan yang diberkahi Allah

Inilah buku yang akan menuntun Anda agar dapat meraih nilai-nilai keberkahan dalam hidup. Sebuah kehidupan tenang, tentram, penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan di bawah bimbingan, naungan, dan ridha Allah Swt.

Silahkan miliki buku ini KLIK DISINI

Meraih Ketenteraman Hati dengan Hidup Penuh Berkah

Oleh Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisiy

Suatu ketika, Ka’ab bin Malik dan dua sahabat Nabi tidak mengikuti Perang Tabuk tanpa alasan yang jelas. Nabi Saw. pun melarang para sahabat untuk berkomunikasi dengan Ka’ab. Semakin lama,Ka’ab semakin terasing dari lingkaran nabi dan sahabat Nabi. Dalam kondisi seperti itu, orang-orang kafir mulai menawarkan kedudukan kepada Ka’ab dan sahabat tersebut bila mereka mau berpaling dari islam. Namun, tak sedikitpun tawaran itu menggeser akidah mereka. Hari-hari terus berlalu, Ka’ab dan sahabat tersebut tetap diasingkan. Di hari keempat puluh, Nabi bahkan memerintahkan agar mereka berpisah dengan istri mereka. 

Hingga hari ke limapuluh, Nabi menyampaikan kabar gembira bahwa taubat mereka diterima melalui firman Allah Ta’ala yang diabadikan dalam al-Qur’an Surat at-Taubah ayat 118. Buku ini berisi kisah nyata tentang kegigihan dan kesungguhan bertaubat. Selain menggugah hati dan memotivasi jiwa, kisah-kisah dalam buku ini juga mengajarkan kepada kita bahwa betapa pun besarnya dosa kita, pintu taubat selalu terbuka.

Silahkan Miliki Buku ini KLIK DISINI

Kemuliaan Taubat: Kisah Orang-Orang yang Diampuni

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...